Dari Sada ke Seki dalam Gelombang Baru Oshima

“Nothing that is expressed is obscene. What is obscene is what is hidden.”

Entah apa perasaan yang aku alami saat dan usai menonton L’Empire des sens (1976) dan LEmpire de la passion (1978). Keduanya menakjubkan. Film arahan Nagisa Oshima yang bertemakan cinta, hasrat, dan nafsu ini seringkali saling dihubungkan karena kesamaannya yang tidak serupa.

Sebut saja kedua film yang berjudul awal L’Empire ini sebagai seri perbandingan film cinta yang bisa ber-passion ataupun ber-poison dari Oshima.

Berlatar di Jepang tahun 1930-an pada masa totalitarianisme Jepang, film L’Empire des sens (selanjutnya Sens) dibuat dari kisah nyata penganiayaan dan pembunuhan sadis (menyerempet necrophilia) Sada Abde (Eiko Matsuda) terhadap Kichizo Ishida (Tatsuya Fuji), kekasihnya sendiri.

Sada Abe, seorang mantan pekerja seks yang menjadi pelayan suatu penginapan bertemu dengan pemilik penginapan, Kichizo. Kichizo suka menggoda Sada dan berniat menyelingkuhinya.

Mereka juga cukup sering berpindah-pindah tempat agar dapat memadu rasa seksual secara intensif tanpa diganggu siapapun. Itu berlanjut lebih erotis hingga akhirnya menjadi brutal dan mencekam. Sada takut dan kuatir Kichizo kembali pada istrinya. Kelamin Kichizo dipotong. Sada menulis hasrat cintanya ke dada Kichizo dengan darah hasil potongan kelamin Kichizo dengan tulisan “Sada and Kichi Together Forever” dalam aksara Jepang. Sebagai tanda cintanya kepada Kichizo.

Sada menginginkan Kichizo hanya untuknya. Betapa obsesif hasrat untuk memiliki kekasih, seutuhnya. Kelewat ngeri!

Sada kesepian lalu melarikan diri.

Sada Abe menjadi banyak dibahas oleh intelektual dan pemerhati budaya. Hasrat, ekspresi seksual, kenimatan dan kebebasan menjadikan Sada sebagai seorang ‘figur’ yang bertindak secara politis melawan norma sosial. Seksualitas, tabu dan terlarang saat itu.

Judul film yang teraut pada hal perasa (sense) diekspresikan lewat adegan softcore dalam hampir setiap kurang dari lima menit. Tata bahasa kamera dan artistik juga banyak bermain dan membuat ilusi ruang untuk mengelabui ide cerita yang dibangun begitu sempit. Sesempit setiap kamar sewaannya. Dalam kesempitan tesebut, adegan hubungan seksual yang acap menjadi keseharian mereka tampak begitu intens, intim dan tidak menjenuhkan untuk dinikmati sepanjang film.

Dimensi lain selain seksualitas, salah satunya dapat dilihat dengan sikap antisosial terhadap masyarakat dan kondisi pra-perang Jepang saat itu. Adegan pasukan tentara yang maju berbaris dengan tatapan mantap ke depan, sedangkan Kichizo berjalan lesu sendirian melawan arah jalan mereka sambil menundukan kepala, begitu kuat kesannya dalam hal ini. Sebuah bahasa yang bisa saja merefleksikan betapa dekadennya kelakuan Kichizo-Sada ataupun bisa dibaca sebagai tindakan politis yang subversif terhadap politik seksualitas, alih-alih perjuangan mengekpresikan kebebasan rasa yang mereka miliki.

Selang dua tahun setelah Sens dirilis, LEmpire de la passion (selanjutnya, Passion) keluar mencari layar penonton.

Film adaptasi buku Itoko Nakamura yang dikirim Itoko sendiri pada Oshima ini, masih tetap diproduseri Anatole Dauman dan diperankan tokoh utama lelaki yang sama;Tatsuya Fuji.

Lanskap pedesaan menjadi latar tempat kisah hasrat cinta Seki (Kazuko Yaoshiyuki) dengan Toyoji (Tatsuya Fuji) dalam Passion. Dimulai dari kecemburuan dan keinginan Toyoji membunuh Gisaburo (suami Seki) demi mendapatkan Seki sepenuhnya, Passion menunjukan perbedaan dengan Sense.

Masuk sebagai film horror berhantu Jepang, Passion unggul di beberapa festival film. Cannes salah satunya. Sama dengan Sense, Passion menunjukan adegan softcore, walau tidak terlalu terlalu ofensif dan vulgar. Pada Passion, alat kelamin ditutupi pakaian, paha ataupun penutup lain.

Di tengah-tengah cerita, Saki yang merasa bersalah ikut membunuh suaminya, mulai meragukan kebulatan hasrat cintanya pada Toyoji. Selain rumor masyarakat yang didengar Seki langsung, ingatan Seki pada ucapan suaminya tentang Toyoji (“Toyoji’s not sweet on you, is he?”) dan sosok suaminya selalu membayang-bayangi Seki dalam rupa hantu Jepang (kaidan) menambah pilu pengkhianatan Seki.

Saki dan Toyoji mati dalam kesialan mereka lewat pengakuan mereka di eksekusi tali gantung pencabukan. Bahasa kamera sangat bagus dipraktikan di sini. Kebrutalan eksekusi direkam berjalan perlahan di belakang penduduk desa membuat kesan seakan-akan seluruh warga satu desa menonton kejadian tersebut. Belum selesai, hingga di penghujung film hanya suara narator dan tampilan kegilaan saudara Toyoji di musim salju (dengan tidak digambarkan Seki dan Toyoji secara visual) bercerita betapa kesialan itu tidak menimbulkan empati sosial masyarakat pedesaan.

Lanskap tempat dan ruang sosial menunjukkan pengembangan ide cerita dalam Passion juga sangat diperhitungkan. Sikap Seki yang masih memikirkan rumor masyarakat dan hukuman sebagai konsekuensi tindakannya bersama Toyidi yang membawa pada beberapa pertimbangan sosial, menjadikan Passion terlihat lebih terbuka pada aspek sosial ketimbang Sense yang anti- sosial.

Tidak seperti Sense yang hanya mencakup satu-dua dimensi demi menunjukan kedalaman maksud sebuah hasrat cinta, Passion menjangkau aspek sosial, bahkan etis. Lewat Passion, Oshima membuktikan (kembali) kejelian dan kelayakannya sebagai pengarah film untuk diperhitungan dalam kancah dunia.

Oshima adalah satu dari sekian pengarah film Jepang yang lantang dan berani di zamannya. Salah satu yang ikut membawa perbedaan yang menyegarkan. Bersama Hisroshi Teshigahara, Susumu Hani, Shohei Imamura, dkk, Oshima masuk jajaran sutradara The Japanesse New Wave (Gelombang Baru Jepang). Gelombang Baru Jepang terjadi sekitar akhir tahun 1950an hingga memasuki 1970an.

Banyak di antara New Wave mengusung semangat dan bentuk baru untuk menggantikan yang lama. Sebutkan apa saja yang masuk dalam gagasan perlawanan (seperti ikonoklasisme dan anti- tradisionalisme)! Hampir setiap New Wave mengusung semangat serupa.

Gelombang Baru Jepang dalam perkembangannya menjadi lebih banyak menunjukkan kekerasan dan gambar-gambar aktivitas seksual. Hingga tahun 1970an, pengaruhnya dikenal umum dengan istilah pinku eiga atau pink film yang dengan cepat menbanjiri pasar perfilman, khususnya film kelas b. Erotis, softcore, sado-masokis, kekerasan lekat dalam pinku. Pada sutradara tertentu (seperti Oshima dan Seijun Suzuki), tanpa ragu menunjukkan brutalitas dan nihilitas hingga menentang nilai moralitas di film-film mereka sehingga banyak dilarang di beberapa negara dan hampir tidak pernah diputar tanpa sensor ketat di Jepang.

Dengan banyak memasukkan peran pembunuh, kriminalitas atau seorang yang memiliki tabiat ganjil, film Gelombang Baru Jepang maupun pinku semacam ingin menunjukan pertentangan dengan tradisi dan masyarakat Jepang. Dalam sejarah sinema Jepang, Oshima juga memberikan pengaruh besar. Ia benar-benar membentuk sinema Jepang dengan memutuskan pola-pola sinema pendahulunya. Film-film Oshima menegasikan dan menghilangkan (berkaitan ikonaklasisme-nya) nilai-nilai bawaan pendahulunya, terutama Yasujiro Ozu dan Akira Kurosawa. Cruel Story of Youth (1960), film yang bertimbang pandang dengan nihilisme dalam menghadapi keseharian hidup pemuda merupakan contoh lainnya.

Oshima banyak menggunakan citra-citra mellow, dramatis, dan terkadang dengan keindahan natural yang dirusak untuk menyampaikan maksud secara implisit. Jika pada film terakhirnya, Taboo (1991), Oshima mengungkapkan kemarahan dengan tebasan Katana seorang Samurai pada pohon di musim salju, maka pada Passion ia menggunakan bilahan cahaya yang tembus dari lubang dinding kayu saat ditemukan telanjang bersama sebagai bentuk kehangatan cinta yang intim. Ditambah dengan adegan taburan dedaunan musim gugur ke sumur pembuangan Gisaburo sebagai ungkapan maaf Toyoji, sekaligus juga balas dendam hantu Gisaburo pada Seki- Toyoji pada adegan lanjutannya.

Apa tidak mengesankan (jika impresi menyakitkan tidak mengena) dari keindahan seperti itu?

Oshima memberikan perbandingan dua cerita bermotif sense, passion, dan cinta dengan perlakuan berbeda dalam Sense dan Passion. Mungkin dari sejak kekecewaan terhadap politik kiri, frustasi dengan politik sayap kanan dan kondisi di negaranya, Oshima membuat film secara independen. Dengan gayanya sendiri. Dengan kekerasan, dengan erotisme, dengan berisi perilaku menyimpang melawan tradisinya.

Kesakitan, kesialan dan kenikmatan dalam berhubungan seksual berkaitan langsung dengan batas-batas obsesif. Baik kisah Sada maupun Seki yang berakhir dalam keadaan menyedihkan, kengerian kedua cerita film tidak terlalu terasa, mengingat bahasa kamera dan penampakan artistik yang memanja mata. Oshima melalui film-filmnya, terutama Sense dan Passion, telah membuat penegasan dalam penciptaan sinemanya. Arahan, detail, dan tata artistik begitu diperhitungkan. Bagaimanapun, Oshima telah memberikan kontribusi pada dunia sinema (terutama di Jepang), dengan atau tanpa mengindahkan nilai moralitas.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories