Terbentur, Terbentur, Terbentuk! Atau Malah Hancur (?)

Kredo yang diucapkan Tan Malaka, “terbentur, terbentur, lalu terbentuk” ibarat slogan kosong pada masyarakat kita hari ini. Di tengah gempuran informasi tidak lagi membimbing seseorang ke arah kebijaksanaan, namun sebaliknya, malah memungkinkan ia lebih mudah terpapar anxiety. Di ranah politik, tak terhitung banyaknya jumlah massa aksi, namun sedikit sekali tuntutan masa yang lolos jadi konstitusi, syukur-syukur bisa jadi institusi. Sistem ekonomi telah berinovasi dengan cepat namun sial, cara kita berpolitik masih saja minim kreasi. Ironisnya, dari banyaknya pengalaman pahit kekalahan, kita seolah tak pernah belajar dan kerap kali jatuh pada lubang yang sama.

Barangkali ada semacam “impotensi” yang merambat di seluruh sendi kehidupan bermasyarakat kita. Semacam ketakutan, kemuakan, amarah, dan frustasi yang jatuh pada suatu bentuk kepasrahan yang gagal dikonversikan jadi perubahan ke arah yang lebih baik. Mungkin semacam indikasi lemahnya kemampuan masyarakat menjawab persoalan yang sedang dihadapi. 

Boleh dibilang kondisi politik kita hari ini menjadi impoten karena tak lagi punya imajinasi bahwa akan selalu ada jalan lain. Misalnya saja, dari kebijakan yang ditawarkan terkesan reaktif, tanpa ada keinginan untuk benar-benar menyelesaikan persoalan secara tuntas. Masalah HAM yang berlarut, pasal karet UU ITE, dan pembungkaman atas aktivisme di akar rumput melalui tuduhan komunisme adalah segelintir cara yang diciptakan untuk meredam nalar kritis kita. Semacam gejala kepanikan massal dalam melihat dunia sebagai sebuah palagan yang tak mungkin rakyat kecil menangkan, atau mungkin kita terlalu percaya bahwa dunia ini selalu punya tujuan di awal. 

Gejala impotensi di masyarakat membawa kita ke arah determinisme fatalistik dalam laku keseharian. Determinisme jangan dibayangkan sekadar metodologi filosofis yang menggambarkan adanya implikasi kausal, namun lebih dari itu, ia juga strategi politik yang bertujuan untuk memperkenalkan rantai sebab-akibat di dunia, dan khususnya dalam organisme sosial. Bahwa obat ampuh dari jerat kemiskinan adalah pasar bebas, pemerintah tidak boleh campur tangan di dalam pasar, subsidi harus dicabut, dan yang terpenting apapun masalahnya kapitalisme jawabannya. Pola deterministik ini bertujuan untuk menaklukkan masa depan, membatasi kemungkinan dengan pola yang telah ditentukan di awal, dan mengotomatiskan perilaku yang ada di masyarakat. Padahal kita akan selalu ada kemungkinan untuk mengambil jalan lain, selalu ada potensi untuk menjadi lebih baik, dan selalu ada kekuatan dalam mewujudkan segala perubahan ke arah yang lebih baik. 

Franco Bifo Berardi dalam bukunya yang berjudul Futurability: The Age of Impotence and the Horizon of Possibility berulang kali menyebut kemungkinan (possibility) sebagai sesuatu yang sebenarnya melekat dalam praktik keseharian masyarakat dan kondisi sosial kita. Jejak pemikiran Berardi bisa dilacak dari pandangan Henri Bergson tentang possibilty. Pada tahun 1937, Bergson menerbitkan artikel yang berjudul “Le possible et le réel” (The Possible and the Real) di majalah Swedia Nordisk Tidskrift. Dalam teks ini, yang kemudian dimasukkan dalam buku La pensée et le mouvant (The Creative Mind: An Introduction to Metaphysics), pemikir asal Prancis ini mencoba untuk menjawab pertanyaan: apa makna dari kata “kemungkinan” itu sendiri? Bergson berbicara kemungkinan melalui definisi negatif bahwa “yang mungkin” adalah hal “yang bukan tidak mungkin”.  Ketidakmungkinan ini merujuk pada kondisi aktualisasinya yang masih menjadi bentuk abstrak. Berbeda dengan Berardi yang lebih menegaskan bahwa keadaan masa depan menjadi mungkin ketika ia sudah termaterialisasikan pada dunia ini dan mempunyai potensi bentuknya.

Saya pikir apa yang Berardi sampaikan banyak benarnya. Siapa di antara kita yang bisa menebak arah gerak sejarah di masa mendatang?

Dua puluh tahun yang lalu, mustahil bagi kita untuk membayangkan apa yang terjadi di dunia ini selama sepuluh tahun terakhir. Borok teokratis kapitalisme finansial telah memungkinkan apa yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya menjadi kenyataan saat ini lewat sentimen rasisme anti-migran, gerakan populisme sayap kanan yang merebak di seantero dunia, dan teror berbasiskan agama.

Di cakrawala politik kiri berbagai macam visi emansipatoris telah banyak diperbincangkan, biasanya muncul dari gabungan kekuatan politik populis dan potensi teknologi yang membebaskan. Dari prediksi atas dunia baru yang penuh dengan waktu senggang, komunisme kosmik era Soviet (Soviet Space Program), perayaan afro-futuris tentang sifat sintetik dan diasporik dari kebudayaan kulit hitam, impian post-gender feminisme radikal, dan imajinasi populer a la kaum kiri membayangkan masyarakat yang jauh lebih baik dan unggul daripada apa pun yang kita impikan hari ini. Dari bayangan ideal itu banyak hal bisa dijadikan pelajaran.

Melalui kontrol politik atas munculnya teknologi baru, kita secara kolektif dapat mengubah dunia yang hari ini murung menjadi lebih baik. Hari ini, mimpi-mimpi bombastis seperti pekerjaan yang lebih sedikit, mengakhiri kelangkaan komoditas, demokrasi ekonomi, produksi barang-barang yang bermanfaat secara sosial, dan untuk pembebasan umat manusia tampak sedemikian masuk akal daripada beberapa dekade sebelumnya. Infrastruktur teknologi abad ke-21 menghasilkan sumber daya sistem politik dan ekonomi yang sangat berbeda dapat dicapai. 

Mesin-mesin dapat menyelesaikan tugas yang tak terbayangkan satu dekade lalu. Internet dan media sosial memberikan suara kepada miliaran orang yang sebelumnya tidak pernah terdengar, menjadikan demokrasi partisipatif global lebih masuk akal daripada sebelumnya. Desain open-source, kreativitas copyleft, dan 3D printing menandakan keadaan kelangkaan produk mungkin dapat diatasi. Bentuk-bentuk baru dari simulasi komputer dapat meremajakan perencanaan ekonomi dan memberikan kita kemampuan untuk mengarahkan ekonomi secara rasional dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan teknologi medis baru tidak hanya memungkinkan hidup lebih lama, lebih sehat, tetapi juga memungkinkan cara pikir baru dalam memandang gender dan identitas seksual. 

Masalahnya, di antara kemilau era teknologi saat ini, kita masih terjebak oleh serangkaian relasi sosial lama yang dari hari ke hari makin menjadi usang. Toh nyatanya kita masih terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar, untuk meletakkan makanan di atas meja, untuk membayar sewa kos-kosan, dan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Otomasi malah membuat kita menganggur dan upah stagnan menghancurkan kelas menengah, sementara laba perusahaan melonjak ke level tertinggi sepanjang peradaban manusia. Kilau masa depan yang lebih baik diinjak-injak dan dilupakan di bawah tekanan dunia yang semakin genting dan menuntut. Dan setiap hari, cerita lama berulang kembali; kita bekerja seperti biasa, kelelahan, cemas, stres dan frustrasi.

Dari sekian banyak pengalaman kekalahan rakyat Indonesia dari masa kemerdekaan hingga pasca reformasi seperti saat ini kita masih terbata-bata dalam membentuk ‘peta kognitif’ dari sistem sosial-ekonomi yang ada. Artinya, kita kesulitan untuk mengimajinasikan bagaimana tindakan individu dan kolektif manusia dapat dijangkarkan pada peta ekonomi-politik global. Contoh sederhana dalam dunia politik, ketika aktivisme dunia lewat people power biasanya digunakan untuk menciptakan sistem sosial yang inklusif, di Indonesia yang terjadi sebaliknya, people power malah dijadikan alat oleh para oligarki untuk menduduki puncak kekuasaan. Sementara dalam relasi ekonomi global saat ini yang ‘tampak’ secara signifikan lebih kompleks dalam hal mobilitas modal, seluk-beluk keuangan global, dan banyaknya aktor ekonomi yang terlibat. Seberapa baik pembacaan ekonomi-politik kita tentang dunia memetakan perubahan-perubahan ini?

Setidaknya bagi kaum kiri, analisis yang didasarkan pada kelas pekerja industri adalah cara yang ampuh untuk menafsirkan totalitas hubungan sosial dan ekonomi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Namun sejarah telah membuktikan cara analisis tersebut kurang ampuh, atau gagal, untuk mengakomodir berbagai kemungkinan perjuangan yang membebaskan (berdasarkan gender, ras atau seksualitas) dan melihat potensi kapitalisme merestrukturisasi dirinya sendiri melalui penciptaan negara kesejahteraan, atau transformasi neoliberal dari ekonomi global. Saat ini, model analisis lama sering kali goyah dalam menghadapi persoalan baru; kita kehilangan kapasitas untuk memahami posisi kita dalam gerak sejarah dan di dunia pada umumnya.

Seolah kita telah kehilangan potensi subjektif yang dapat menyebarkan pelbagai kemungkinan dan mengaktualisasikannya. Padahal potensi inilah yang nantinya dapat menjadi energi untuk mengubah kemungkinan menjadi kenyataan. Kondisi sosial saat ini seolah ‘mandul’ dalam menciptakan potensi, padahal ia punya peran sentral untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan transformasi—sesuai dengan kehendak subjek. Dan sejarah “orang-orang kuat” memberikan kita pelajaran bahwa sejarah adalah ruang kemunculan kemungkinan yang inheren dalam subjektivitas yang dianugerahi potensi.

Untuk melampaui impotensi yang kadung kronis ini, perlu untuk melakukan kontra strategi dalam pembacaan sosial-politik. Politik alternatif kontemporer merebut kembali pembacaan ekonomi-politik riil, membangun kekuatan populis yang hegemonik, dan memobilisasi massa menuju masa depan pasca-kerja. Usaha-usaha politik kerakyatan perlu digeneralisir dan diintrernalisasikan menjadi institusi, aksi langsung perlu disokong oleh riset (baik jangka panjang atau pendek). Tanpa kerja-kerja ini masyarakat akan tetap mandul, karena tidak mampu untuk memahami sifat dari kapitalisme lanjut.

Politik alternatif di Indonesia perlu untuk mengkontestasikan diri di dalamnya lewat optimisme atas kemajuan sejarah yang dapat ditempuh melalui sains, cakrawala universalitas, dan komitmen terhadap emansipasi. Perjuangan ekonomi-politik saat ini adalah perjuangan dalam semangat modernisme dan cita-citanya. Modernisme harus diperebutkan, bukan malah ditolak mentah-mentah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories