crossedfinger

crossedfinger

Asal-Usul Pasca-Kebenaran

Judul: Post-Truth

Penulis: Lee McIntyre

Penerbit: The MIT Press

Tahun terbit: 2018

ISBN: 9780262535045

Istilah ‘post-truth’ atau ‘pasca-kebenaran’ menjadi istilah yang begitu populer belakangan ini. Oxford Dictionary menjadikannya sebagai word of the year pada 2016. Pemantiknya adalah dua peristiwa politik yang pada saat itu cukup menghebohkan dunia Barat, yaitu referendum Brexit di Inggris dan pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Baik Brexit maupun pemilihan presiden AS yang memenangkan Donald Trump itu sama-sama dipenuhi kebohongan. Selama kampanye Brexit, misalnya, ada satu kebohongan yang terus-menerus dinarasikan, yaitu bahwa uang Inggris mengalir ke Uni Eropa sebanyak 350 juta euro setiap minggu. Anehnya, kebohongan itu dipercaya, dan mayoritas rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa. 

Oleh karenanya, Oxford Dictionary mendefinisikan ‘post-truth’ sebagai ‘terkait dengan atau menandai sebuah keadaan yang di dalamnya fakta objektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi.’ Keadaan inilah yang hendak dijelaskan asal-usulnya oleh Lee McIntyre di dalam buku ini.

Makhluk Emosional

McIntyre sendiri memahami pasca-kebenaran (post-truth) sebagai sebentuk supremasi ideologis yang praktisinya mencoba memaksa seseorang untuk mempercayai sesuatu terlepas itu berdasar fakta atau tidak (hlm. 13). Dan menurutnya, langkah pertama untuk melawan supremasi ideologis tersebut adalah dengan memahami asal-usulnya (hlm. 14).

Meskipun istilah pasca-kebenaran baru populer belakangan ini, tetapi fenomenanya sudah lama terjadi. Hal itu bisa dilihat indikasinya dari penolakan terhadap sains (science denial) yang terjadi selama beberapa dekade terakhir ini. Penolakan terhadap temuan-temuan ilmiah ini motifnya beragam, bisa karena kepentingan ekonomi, politik, atau ideologis (hlm. 21).

Saat ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa rokok dapat menyebabkan kanker, misalnya, para konglomerat perusahaan tembakau berkumpul di kota New York pada 1953 untuk membahas apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi temuan ilmiah yang mengancam perusahaan mereka.

John Hill, pemimpin pertemuan itu, alih-alih mendorong agar perusahaan-perusahaan tembakau berlomba-lomba untuk membuat rokok yang lebih sehat, malah menyarankan agar semua perusahaan tembakau itu bersatu mensponsori “penelitian tandingan” untuk melawan temuan penelitian sebelumnya.

Sialnya, semua konglomerat yang hadir pada waktu itu setuju dengan saran John Hill. Maka dibentuklah sebuah lembaga riset bernama Tobacco Industry Research Committee yang misinya adalah untuk meyakinkan publik bahwa tidak ada bukti nyata bahwa merokok dapat menyebabkan kanker. Naomi Oreskes dan Erik Conway di dalam Merchants of Doubt (2010) menyebut kasus tersebut sebagai blue print penolakan terhadap sains.

Contoh lain yang terbaru tentu saja adalah penolakan Trump terhadap temuan ilmiah bahwa sedang terjadi pemanasan global. Trump menuduh bahwa ilmuwan yang selalu mewanti-wanti adanya perubahan iklim besar-besaran itu sebenarnya memiliki agenda politis tersendiri dan karenanya tak perlu dipercayai.

Klaim-klaim politisi seperti Trump bagi sebagian orang tentu saja memang menjengkelkan. Tetapi bagi sebagian orang yang lain, anehnya, justru diterima sebagai kebenaran. Trump sendiri menyebut itu sebagai ‘fakta alternatif’.

Namun, kita sebenarnya tak perlu terkaget-kaget melihat orang yang mempercayai dan bahkan turut menyebarkan kabar atau klaim yang jelas-jelas tak berdasar. Para psikolog sudah berpuluh-puluh tahun melakukan banyak eksperimen yang hasilnya selalu menunjukkan bahwa kita, manusia, tidak serasional yang kita bayangkan (hlm 35).

Artinya, dalam menerima dan menyaring sebuah informasi, kita lebih banyak menggunakan emosi dan keyakinan pribadi daripada kemampuan berpikir rasional untuk meragukan dan meneliti kembali. Asalkan informasi itu sesuai dengan atau mengonfirmasi kepentingan dan keyakinan pribadi kita, maka kita akan dengan mudah untuk menerimamya, tidak peduli apakah ia didasarkan pada fakta atau hanya omong kosong belaka.

Oleh karena itulah, Noval Yuah Harari di dalam 21 Lessons for the 21st Century menyebut manusia sebagai spesies pasca-kebenaran. Artinya, sejak awal sejarahnya, manusia memang makhluk yang cenderung untuk membuat dan mempercayai cerita-cerita fiktif. 

Justifikasi Intelektual

Selain memiliki akar psikologis dalam diri manusia, pasca-kebenaran menjadi fenomena yang menyebarluas belakangan ini juga karena efek media. Hadirnya Internet telah menjadikan media-media tradisional seperti Koran dan Televisi, yang di dalam pemberitaannya selalu memegang teguh prinsip jurnalisme, bukan lagi satu-satunya sumber informasi (hlm. 89).

Bersamaan dengan itu, Internet juga telah menciptakan apa yang disebut ‘media sosial’—yang di dalamnya setiap orang, dengan kapasitas paling buruk sekalipun, dapat memproduksi informasi dan menyebarluaskannya dengan cara yang nyaris tak tahu diri. Kemunculan media sosial, dengan demikian, telah mengaburkan batas antara berita dengan opini (hlm. 93).

Dalam kondisi membanjirnya informasi yang tidak lagi bisa dibedakan dengan opini, banyak orang ingin menemukan perlindungan dari kampus dengan menemui para akademisi. Namun, itu ternyata bukan pilihan yang tepat. Sebab fenomena pasca-kebenaran yang belakangan ini muncul itu justru memiliki akar ideologis di kampus-kampus.

Lee McIntyre membuat klaim yang akan membuat telinga banyak orang memerah terkait hal ini. Ia menyatakan bahwa pascamodernisme—yang beberapa dekade terakhir ini digemari oleh banyak akademisi sosial-humaniora di kampus-kampus—adalah “the godfather of post-truth,” (hlm. 150).

Pascamodernisme adalah sebuah istilah yang selalu enggan didefinisikan secara jelas oleh para penganjurnya. Namun, terkait pasca-kebenaran, kita bisa menarik dua tesis utama dari pascamodernisme: 1) bahwa tidak ada kebenaran objektif; dan 2) bahwa setiap pernyataan tentang kebenaran itu tak lebih dari refleksi ideologis orang yang menyatakannya (hlm. 126).

Tesis pertama, misalnya, termanifestasi dalam konsep tiadanya makna transendental, makna objektif yang dapat menjadi jangkar kebenaran, dalam pemikiran Jacques Derrida. Makna sebuah teks itu tidak tunggal, tetapi beragam, seturut konteks dan jalinan intertekstual yang menyertainya.

Tesis kedua, salah satunya, termanifestasi dalam pemikiran Michel Foucault tentang relasi pengetahuan dan kekuasaan. Menurutnya, pengetahuan itu selalu mengandaikan kekuasaan dan, sebaliknya, kekuasaan selalu membutuhkan pengetahuan untuk menjustifikasinya. Karenanya, tak ada pengetahuan yang objektif; pengetahuan selalu ditautkan dengan kepentingan politik dan ideologis.

Dua tesis itulah yang dijadikan sebagai dalih oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menolak klaim-klaim ilmiah dan membuat klaim-klaim baru yang sesuai dengan kepentingannya. Dengan demikian, pascamodernisme menjadi semacam justifikasi intelektual bagi pasca-kebenaran.

Tulisan ini sebelumnya diimuat di Koran Tempo edisi 15 Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories